Batu Hitam, sekitar tahun 830
Ada seorang nakhoda yang tidak pernah sampai.
Kira-kira pada tahun 830 Masehi, sebuah kapal kayu bergaya Arab berlayar di jalur dagang Afrika–Tiongkok. Papan-papannya dijahit dengan serat, bukan dipaku. Di lambungnya ada sekitar enam puluh ribu keping muatan: mangkuk Changsha, guci, teko, cermin perunggu bermotif delapan trigram, wadah-wadah dari emas dan perak. Sebuah perpustakaan peradaban yang dikemas dalam bentuk barang pecah belah.
Kapal itu tidak pernah tiba di pelabuhan tujuannya.
Ia karam di perairan Batu Hitam, tak jauh dari pesisir pulau tempat saya berangkat kerja setiap pagi. Dan selama seribu seratus enam puluh delapan tahun, muatannya tergeletak di dasar laut. Utuh. Terawat oleh lumpur. Dan sama sekali tidak berguna bagi siapa pun.
Baru pada 1998, sekelompok nelayan pencari teripang menemukannya. Tidak sengaja.
Saya memikirkan nakhoda kapal itu jauh lebih sering daripada yang pantas bagi seorang pegawai negeri sipil. Bukan karena saya penggemar arkeologi bawah air. Tetapi karena, pada satu periode dalam hidup saya, saya adalah dia.
Rayap adalah pembaca yang paling setia
Dulu saya menulis.
Bukan menulis yang romantis, dengan mesin ketik dan jendela menghadap laut. Menulis yang sebenarnya: pukul sebelas malam, anak-anak sudah tidur, laptop panas di paha, dan satu paragraf yang dihapus tujuh kali karena saya sendiri tidak yakin maksudnya apa.
Saya menulis artikel opini kebijakan publik dan mengirimkannya ke media massa. Saya ikut kontestasi artikel jurnal. Saya menyusun policy brief dan policy paper, lengkap dengan latar belakang, analisis, tiga alternatif kebijakan, matriks perbandingan, dan rekomendasi yang saya yakini betul-betul masuk akal.
Lalu saya cetak. Saya jilid di fotokopian dekat kantor, yang spiralnya selalu miring sedikit ke kanan. Saya antarkan.
Dan setelah itu: senyap.
Tidak ada yang menolaknya. Itu bagian yang paling perih. Kalau ditolak, setidaknya artinya dibaca. Ini tidak. Ini hanya... selesai. Seperti melempar batu ke sumur yang ternyata kering.
Kalau dihitung jujur, naskah kebijakan saya waktu itu punya tiga pembaca: saya sendiri, aplikasi pemeriksa plagiasi, dan seekor rayap di lemari arsip. Dan sejauh yang saya tahu, hanya rayap itu yang benar-benar menghabiskan seluruh isinya sampai halaman terakhir. Sebuah dedikasi membaca yang, harus saya akui, patut dihormati.
Yang dimuat di media massa nasibnya sedikit lebih baik, tapi hanya sedikit. Tulisan opini itu seperti kembang api: terang, ramai, di-screenshot teman-teman, lalu gelap lagi dalam empat puluh delapan jam. Ia dibaca oleh banyak orang yang tidak berwenang, dan tidak dibaca oleh sedikit orang yang berwenang.
Waktu itu saya sempat menyimpulkan hal yang keliru: bahwa saya gagal menulis.
Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk sadar bahwa kesimpulan itu salah. Saya tidak gagal menulis. Saya berhasil menulis, tetapi ke arah yang tidak ada pelabuhannya.
Dan saya tidak sendirian. Ini penyakit nasional. Para periset di negeri ini punya nama untuk fenomena itu: valley of death (lembah kematian). Dari ribuan judul penelitian yang dibiayai negara setiap tahun, hanya sebagian kecil yang benar-benar sampai ke tangan pengguna; sisanya turun ke lembah itu dan tidak naik-naik lagi. Bukan karena isinya jelek. Sering kali justru sebaliknya.
Kesalahannya bukan pada siapa-siapa. Tidak ada pejabat jahat yang membuang naskah saya. Tidak ada konspirasi anti-ilmu pengetahuan di kabupaten ini. Yang tidak ada, sederhana saja: dermaga.
Muatannya ada. Kapalnya ada. Nakhodanya bahkan bersemangat.
Pelabuhannya yang belum dibangun siapa-siapa.
Kota seribu satu rapat yang tidak dinotulenkan
Di sinilah bagian yang selalu membuat saya tersenyum sekaligus getir.
Belitung Timur bukan daerah yang miskin gagasan. Sama sekali bukan. Kami ini kabupaten dengan sekitar seribu dua ratus warung kopi. Ibu kota kami, Manggar, dijuluki Kota 1001 Warung Kopi bukan karena tim promosi pariwisata pandai membuat tagline, tapi karena memang begitulah kenyataannya. Warung kopi berdempetan, berhadapan, bersebelahan. Segelas kopi tujuh ribu rupiah bisa menahan seseorang duduk dua jam.
Dan orang di sini ngopi tiga kali sehari: selepas subuh, menjelang siang, lalu malam. Ada yang bilang, di Manggar bahkan rapat kantor pun pernah pindah ke warung kopi, dan hasilnya, katanya, lebih produktif.
Coba hitung kasar saja. Seribu dua ratus warung, tiga sesi sehari, entah berapa ribu meja. Artinya, secara statistik, Belitung Timur menyelenggarakan ribuan forum diskusi kebijakan setiap hari: soal harga sawit, soal jalan yang rusak di simpang mana, soal kenapa anak-anak muda merantau, soal tambang, soal sekolah, soal laut.
Ribuan forum. Tanpa satu pun daftar hadir. Tanpa satu pun notulen. Tanpa satu pun yang bisa dibaca ulang oleh orang yang tidak ikut duduk di meja itu.
Kami bukan masyarakat yang tidak berpikir. Kami masyarakat yang berpikirnya menguap bersama uap kopi.
Dan itu, saya kira, kerugian yang jauh lebih besar daripada enam puluh ribu keping keramik di dasar laut sana.
Belajar membuat kapal, untuk data
Sebelum di tempat sekarang, saya bertugas sebagai Kepala Bidang Keamanan Informasi, Statistik dan Persandian. Sebuah nama jabatan yang, kalau diucapkan lengkap, memerlukan dua tarikan napas dan sedikit keberanian.
Di sana saya belajar sesuatu yang kelak mengubah cara saya melihat segalanya.
Bersama tim, kami membidani lahirnya Sister Beltim, sistem survei statistik sektoral terintegrasi, karena kami capek melihat survei kepuasan masyarakat dikerjakan dengan cara yang berbeda-beda di setiap kantor, lalu hasilnya berakhir di folder yang berbeda-beda pula. Sesudah itu menyusul beberapa sistem lain, yang semuanya berangkat dari kegelisahan yang sama: data sektoral jangan cuma dikumpulkan, tapi harus benar-benar terbit dan bisa dipakai orang.
Sebagai project manager pengembangan sistem, saya juga belajar satu kebenaran pahit yang tidak pernah ditulis di buku manajemen proyek mana pun.
Bagian termudah dari sebuah sistem adalah hari peluncurannya. Hari itu semuanya tampak sempurna. Ada spanduk, ada tumpeng, ada tombol yang ditekan beramai-ramai sambil difoto. Saya tahu persis betapa mudahnya bagian itu, karena sayalah yang menyiapkan tombolnya.
Yang sulit datang jauh belakangan. Yang sulit adalah bulan keempat belas, ketika spanduknya sudah dicopot, tumpengnya sudah lama habis, dan seseorang di sebuah ruangan harus tetap membuka aplikasi itu untuk memperbarui satu angka yang mungkin tidak akan dibaca siapa pun pada hari itu.
Sebab aplikasi tidak pernah benar-benar selesai, dan juga tidak pernah benar-benar mati mendadak. Ia hanya berpindah pelan-pelan dari status "sedang dikembangkan" menjadi "sedang dievaluasi", lalu menjadi "dulu ada".
Dan perpindahan itu hampir selalu terjadi pada hari yang sama: hari ketika orang terakhir yang benar-benar peduli dipindahtugaskan.
Tapi pelajaran terpentingnya bukan soal teknis.
Data yang tidak punya rumah, sama saja dengan data yang tidak ada.
Angka yang tersimpan di laptop seseorang bukanlah pengetahuan. Ia baru menjadi pengetahuan ketika ia bisa ditemukan, diperiksa, dan dibantah orang lain.
Bertahun-tahun saya membangun dermaga untuk angka.
Baru belakangan saya sadar bahwa saya belum pernah membangun dermaga untuk pikiran.
Dan ada satu ironi kecil yang selalu saya kenang: lomba inovasi tempat sistem-sistem itu ikut serta diselenggarakan oleh kantor perencanaan daerah, kantor yang, tanpa pernah saya duga, rupanya menjadi rumah saya sendiri hari ini.
Mutasi, dan laut yang lain
Mutasi di birokrasi itu seperti ombak. Tidak bisa dinegosiasikan. Hanya bisa dinaiki.
Suatu hari saya diamanahi menjadi Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RIDA) pada Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Belitung Timur. Sebuah nama yang, lagi-lagi, butuh dua tarikan napas.
Hari-hari pertama, saya merasa seperti orang yang pindah dari kapal barang ke kapal penumpang. Alatnya berbeda. Bahasanya berbeda. Yang diangkut berbeda.
Dan saya ingin mengatakan hal berikut dengan sejelas-jelasnya, karena bagi saya ini penting:
Bidang ini tidak saya temukan kosong.
Ada orang-orang yang lebih dulu duduk di kursi ini, jauh sebelum riset dan inovasi daerah menjadi topik yang seksi untuk dibicarakan. Mereka bekerja pada zaman ketika kelembagaannya masih dicari bentuknya, ketika payung hukumnya belum selengkap sekarang, ketika kata "inovasi" masih sering disalahpahami sebagai "aplikasi baru". Mereka berlayar dengan peta yang tersedia pada masanya. Lambung kapal ini dibangun oleh tangan-tangan sebelum saya.
Saya hanya kebetulan kebagian giliran memegang kemudi ketika anginnya berubah.
Kalau hari ini saya bisa melihat sedikit lebih jauh, itu bukan karena mata saya lebih tajam. Itu karena tiangnya sudah ditegakkan lebih dulu oleh orang lain.
Ternyata itu bukan hobi. Itu perintah.
Yang membuat saya benar-benar terdiam adalah ketika saya mulai membaca peraturannya dengan serius. Bukan membaca sambil lalu untuk keperluan bahan paparan, tapi membaca betulan, kalimat demi kalimat.
Peraturan LAN Nomor 28 Tahun 2017 ternyata sudah lama menyebut, dalam Pasal 3, bahwa karya tulis ilmiah bagi analis kebijakan itu terdiri atas risalah kebijakan, kertas kerja, makalah kebijakan, dan artikel kebijakan. Empat bentuk. Punya definisi. Punya standar. Sejak 2017.
Peraturan BRIN Nomor 5 Tahun 2023, Pasal 24 ayat (1), bahkan lebih tegas lagi: hasil riset wajib digunakan sebagai landasan ilmiah dalam perumusan dan penetapan kebijakan pembangunan daerah. Wajib. Bukan disarankan. Bukan diupayakan sesuai kemampuan keuangan daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 2023 melengkapinya dari sisi kelembagaan, termasuk menempatkan pengelolaan dan pemanfaatan sistem informasi ilmu pengetahuan dan teknologi di daerah sebagai fungsi yang harus diselenggarakan, bukan sebagai bonus kalau sempat.
Saya masih ingat perasaan malam itu.
Selama bertahun-tahun saya mengira apa yang saya lakukan pukul sebelas malam itu adalah hobi ganjil seorang ASN yang kurang piknik. Ternyata negara sudah memberinya nama sejak lama. Ternyata ada pasalnya. Ternyata itu bukan kegemaran pribadi, melainkan perintah yang belum kami kerjakan dengan sungguh-sungguh.
Negara sudah menuliskan kewajiban berlayar.
Yang belum dibangun siapa-siapa, sekali lagi, adalah pelabuhannya.
Kenapa "Nakhoda"?
Kami, para ASN, punya bakat alami membuat akronim. Kalau ada Olimpiade Akronim tingkat Asia Tenggara, saya yakin kontingen kita lolos ke final tanpa perlu babak kualifikasi.
Jadi saya sadar betul risikonya ketika mengusulkan nama ini. Ada yang bertanya, kenapa tidak sesuatu yang lebih kekinian? Yang ada huruf X-nya, atau minimal disisipi kata smart?
Jawaban saya sederhana: karena kami tinggal di pulau, bukan di Silicon Valley (lembah silikon). Kalau saya sebut sebuah singkatan berhuruf kapital semua, ayah saya di rumah akan mengangguk sopan tanpa mengerti apa-apa. Tapi kalau saya bilang "nakhoda", beliau langsung paham, dan langsung punya pendapat.
Nakhoda: Naskah Analisis Kebijakan Hasil Observasi, Data, dan Argumentasi.
Tapi bukan kepanjangannya yang membuat saya keras kepala mempertahankan nama ini. Melainkan lima hal yang terkandung di dalam kata itu, yang sudah kami pahami sejak kecil tanpa perlu diterjemahkan:
Seorang nakhoda tidak berlayar dengan firasat. Ia membaca angin, arus, bintang, kedalaman. Ia berlayar dengan data, dan ia tahu bahwa laut tidak pernah bernegosiasi dengan perasaan siapa pun. Di darat, orang yang salah arah akan tersesat. Di laut, orang yang salah arah akan tenggelam.
Seorang nakhoda bukan pemilik kapal. Ia diamanahi. Ia bertanggung jawab atas seluruh isi kapal, termasuk atas orang-orang yang tidak pernah ia pilih sebagai penumpang. Itu definisi kepemimpinan yang jauh lebih jujur daripada kebanyakan buku manajemen.
Nakhoda adalah kata milik kami sendiri. Di daerah yang hidupnya berbatasan dengan laut di hampir semua sisi, riset tidak boleh terdengar seperti barang impor. Ilmu pengetahuan harus terasa seperti sesuatu yang tumbuh di halaman sendiri.
Nakhoda menyatukan muatan yang tercerai. Selama ini hasil kajian kita berserak: ada di laporan akhir kegiatan, ada di skripsi anak daerah, ada di catatan penyuluh, ada di kepala orang. Kapal ada untuk mengumpulkan semuanya ke satu lambung, lalu membawanya ke satu arah.
Dan yang terakhir: nakhoda tidak boleh tidur. Ia harus bisa ditanya, "Kita di mana sekarang?" dan menjawab dengan koordinat, bukan dengan kalimat "sedang dalam proses".
Ini bukan hanya untuk analis kebijakan
Kalau Nakhoda hanya menjadi ruang bagi pejabat fungsional analis kebijakan, saya sudah gagal sebelum berangkat.
Karena pengetahuan paling berharga di kabupaten ini justru tidak tersimpan di kepala pemegang jabatan fungsional mana pun.
Ia tersimpan di kepala seorang bidan desa yang tahu persis alasan sebenarnya kenapa ibu-ibu di dusunnya melewatkan pemeriksaan kehamilan, dan alasannya bukan yang tertulis di laporan mana pun. Ia tersimpan di kepala penyuluh pertanian yang hafal petak mana yang selalu gagal dan kenapa. Ia tersimpan di kepala guru yang tahu murid-murid mana yang berhenti sekolah pada bulan apa dan setelah peristiwa apa. Ia tersimpan di kepala staf kecamatan yang selama sepuluh tahun melayani loket yang sama dan bisa memprediksi keluhan warga sebelum kalimatnya selesai.
Mereka bukan analis kebijakan. Mereka mungkin tidak pernah menulis apa pun yang lebih panjang dari laporan perjalanan dinas.
Tapi mereka punya observasi. Dan observasi adalah huruf O dalam Nakhoda.
Belitung Timur pernah hidup dari timah. Kami tahu betul bagaimana rasanya menggali kekayaan dari tanah sendiri, lalu menyaksikan kekayaan itu diolah, dinilai, dan dinikmati di tempat lain. Saya tidak ingin hal yang sama terjadi pada pengetahuan kami.
Karena itu Nakhoda dibuka untuk seluruh ASN. Bukan sebagai kewajiban tambahan yang menyiksa, tapi sebagai dermaga: tempat kapal siapa pun boleh merapat, asal muatannya jujur dan bisa dipertanggungjawabkan.
Berlayar duluan, bukan menyuruh berlayar
Ada godaan besar di birokrasi untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan surat edaran.
Surat edaran adalah alat yang baik untuk banyak hal. Menumbuhkan keberanian bukan salah satunya.
Jadi kami memilih cara yang lebih merepotkan. RIDA akan menulis lebih dulu. RIDA akan menerbitkan naskahnya sendiri lebih dulu. Dan, ini bagian yang tidak enak, RIDA akan dikritik lebih dulu.
Saya sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan bahwa naskah pertama yang terbit di Nakhoda nanti akan biasa-biasa saja, atau bahkan jelek. Tidak apa-apa. Kapal pertama yang dibuat manusia juga tenggelam. Yang penting orang kedua melihatnya, lalu berpikir: lambungnya kurang dalam, saya bisa perbaiki.
Begitulah cara sebuah tradisi dimulai. Bukan dengan seruan, tapi dengan seseorang yang lebih dulu basah.
Pramoedya pernah menulis kalimat yang tidak pernah bisa saya lupakan: "Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Saya tidak seberani itu. Saya tidak sedang mengincar keabadian. Saya hanya ingin naskah seorang penyuluh pertanian dari Kecamatan Dendang masih bisa dibaca orang pada tahun 2040, ketika penyuluh itu sudah pensiun dan mungkin sudah tidak ada. Buat saya, itu sudah cukup abadi.
Muatan yang sampai terlambat
Mari kita kembali ke nakhoda yang tidak pernah sampai itu.
Enam puluh ribu keping muatannya akhirnya diangkat dari dasar laut Belitung. Setelah melewati proses panjang dan tidak sedikit kontroversi, sebagian besar muatan itu dibeli dan kini dipamerkan rapi di balik kaca, di sebuah museum di negara lain, dengan keterangan dalam bahasa yang bukan bahasa kita.
Muatan itu, pada akhirnya, sampai juga.
Seribu seratus tahun terlambat, dan bukan ke tangan orang yang paling membutuhkannya.
Saya tidak ingin gagasan-gagasan terbaik Belitung Timur bernasib seperti itu. Saya tidak ingin ada kajian yang baru dianggap penting setelah masalahnya sudah telanjur menjadi bencana. Saya tidak ingin ada pegawai yang menulis dengan sungguh-sungguh lalu diam-diam menyimpulkan bahwa berpikir keras itu tidak ada gunanya di sini.
Karena begitu satu orang menyimpulkan hal itu, ia akan berhenti. Dan ketika cukup banyak orang berhenti, sebuah daerah kehilangan kemampuan yang paling sulit dipulihkan: kemampuan untuk mengoreksi dirinya sendiri.
Kopi yang dingin
Saya menulis catatan ini di warung kopi, tentu saja. Di mana lagi.
Kopi di depan saya sudah dingin. Di Manggar, itu bukan tanda kegagalan. Itu tanda percakapan yang bagus.
Saya tahu betul bahwa saya mungkin tidak akan sampai. Mutasi bisa datang kapan saja, seperti ombak tadi. Bisa jadi suatu hari nanti ada orang lain yang duduk di kursi ini dan menemukan bahwa peta yang saya tinggalkan sudah tidak cocok lagi dengan anginnya.
Tidak apa-apa. Sungguh.
Karena kalau dermaganya sudah berdiri, tidak lagi terlalu penting siapa yang memegang kemudi. Kapal-kapal akan tetap merapat. Muatan akan tetap turun. Dan orang-orang di darat akan tetap bisa mengambil apa yang mereka butuhkan.
Nakhoda bukan nama saya. Nakhoda juga bukan sekadar nama sebuah platform.
Nakhoda adalah keputusan untuk tidak lagi membiarkan pikiran yang baik karam di perairan sendiri.
"Sekali layar terkembang,
pantang biduk surut ke pantai."
Layarnya sudah terkembang. Muatannya sudah dinaikkan.
Sisanya, kita urus di tengah laut.